N. Ikawidjaja
Konsultan
Acara 1st International Seaweed Forum (ISF)/Forum Internasional Rumput Laut Pertama di Makassar pada tanggal 28-30 Oktober 2008 telah dilaksanakan sebulan yang lalu. Acara yang melibatkan banyak negara produsen/importir rumput laut diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi Sulsel dan Indonesia. Dari setiap event nasional atau internasional yang telah dilaksanakan diperlukan suatu evaluasi yang lengkap misalnya apa manfaat ekonomi bagi Sulsel sebagai tuan rumah ISF?
Tanpa evaluasi yang lengkap dari suatu event maka yang terjadi hanyalah suatu perayaan seremonial belaka tanpa memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Sulsel di masa mendatang. Dari pengalaman mengikuti kegiatan ISF tersebut terdapat satu kajian penting yang menyatakan Indonesia sebagai produsen bahan baku terbesar rumput laut dunia dan sebagian besar produk tersebut berasal dari Sulsel.
Kedengarannya sangat membesarkan hati namun jika dievaluasi kembali apakah cukup bangga hanya menjadi produsen bahan baku (raw material) saja untuk jangka waktu panjang? Tentunya sangat naif jika Indonesia hanya menjadi pemasok bahan baku terus menerus tanpa inovasi untuk meningkatkan nilai tambah produk rumput laut melalui proses industrialisasi. Harapan Sulsel sebagai pemain utama rumput laut dunia seyogyanya menjadi suatu pilihan strategis yang menjadi visi bersama. Bila menjadi sebuah keputusan strategis maka perwujudannya harus dirancang dan dilaksanakan sejak saat ini secara profesional dan total, tanpa setengah hati.
Di era otonomi daerah dengan tujuan akhir adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat maka inisiatif dan implementasi visi “Sulsel sebagai klaster utama rumput laut dunia” sebaiknya tidak harus selalu bergantung pada peran dari pemerintah pusat (Jakarta). Sikap proaktif Sulsel adalah membangun klaster industri kelautan (rumput laut) dengan basis mesin pendorong utama adalah sektor swasta. Sekarang dan masa mendatang adalah era swasta di depan, pemerintah hanyalah fasilitator dalam mengembangkan industri. Pelaku swasta hulu hilir difasilitasi menjadi pemimpin (leader) mewujudkan Sulsel sebagai provinsi industri kelautan.
Klaster Industri dan Swasta
Pengembangan klaster secara bertahap diawali dari keberadaan sentra-sentra komoditas unggulan seperti yang telah digagas dari program Gerbang Emas. Di Sulsel telah berkembang secara alami dengan pesatnya berbagai sentra komoditas unggulan misal kakao di wilayah Luwu, padi di wilayah Bosowa, khusus rumput laut di wilayah selatan (Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Selayar, Sinjai) dan wilayah lainnya (Bone, Luwu sekitarnya).
Klaster diartikan sebagai sejumlah perusahaan dan lembaga yang terkonsentrasi pada suatu wilayah, serta saling berhubungan dalam bidang yang khusus yang mendukung persaingan (Porter, 2000). Faktor-faktor pembentuk klaster oleh Porter disebut sebagai model berlian (diamond model), yang terdiri dari faktor input, kondisi permintaan, industri pendukung dan terkait, strategi perusahaan dan pesaing. Satu hal yang patut ditambahkan untuk kondisi Indonesia (Sulsel) adalah keterkaitan (linkage) klaster dengan perbankan.
Pada setiap sentra sebagai cikal bakal klaster telah terbangun rantai bisnis yang diikuti dengan hadirnya tokoh, lembaga/perusahaan swasta (pengusaha) yang telah menekuni bisnis cukup lama. Mereka bukan pengusaha kagetan yang muncul ketika suatu komoditas sedang naik daun. Mereka adalah tokoh swasta yang teruji oleh waktu, pengalaman luas, profesional dan dipercaya karena upayanya memberdayakan bukan memperdayai para petani/kelompok tani rumput laut. Dengan ketokohannya mereka dapat disebut sebagai local champion. Para tokoh, lembaga/perusahaan swasta ini dapat diperkuat dan difasilitasi oleh pemerintah sebagai jangkar (anchor) dan pemimpin untuk pengembangan sentra komoditas menjadi klaster industri.
Manfaat klaster akan dirasakan langsung oleh para petani rumput laut diantara adanya peningkatan nilai tambah (pengetahuan, keterampilan, produktivitas dan kualitas produk), kepastian harga pembelian produk yang menguntungkan para petani, membangun kerjasama bisnis yang berkelanjutan dengan mitra, membangun industri, menyerap tenaga kerja lebih banyak dan melakukan perlindungan bagi komunitas klaster dengan jaminan asuransi kesehatan dan jiwa.
Relung Ekonomi (niche economic)
Arah selanjutnya pengembangan sentra menjadi sebuah klaster maju dilaksanakan melalui kerjasama keterkaitan para pelaku hulu hilir dengan upaya untuk mewujudkan pencapaian dua program penting yaitu memadukan antara program inovasi manajemen mutu dan kemitraan. Perpaduan program ini mampu mendorong kesejahteraan petani lebih baik ketika berdampingan hidup dengan industri lainnya misal industri pemasok (bibit bermutu), industri inti (pengolahan tepung, chips, agar-agar, cat), industri terkait (pariwisata) dan industri pendukung (alat pelampung, jaring, jasa transportasi).
Semakin bertambah umur suatu klaster ketergantungan para pelaku hulu hilir kepada pemerintah semakin berkurang. Peran swasta terdiri dari para pelaku hulu hilir rumput laut menjadi dominan. Mereka lebih mengetahui kebutuhan yang diperlukan serta mampu mencari solusi untuk mengembangkan dan memperkuat klaster. Ketika para pelaku swasta dalam komunitas klaster industri telah mampu menolong diri mereka sendiri dan memenuhi kebutuhan input, permintaan/pasar, industri terkait dan pendukung maka kawasan klaster telah berkembang menjadi sebuah relung ekonomi (niche economic) dalam sistem ekonomi.
Sebuah relung ekonomi dapat diibaratkan sebagai sebuah sarang lebah madu (klaster) yang menghasilkan madu (produksi rumput laut) terus menerus tanpa mengganggu komunitas lainnya (pelaku ekonomi lain) bahkan kehadiran lebah madu (pengusaha mikro kecil rumput laut) mampu membantu proses penyerbukan tanaman dari bunga menjadi buah (penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan asli daerah, bank menerima penabung/debitor baru).
Masa Depan Klaster Rumput Laut
Dalam skala lebih lengkap sebuah klaster industri rumput laut semakin berkembang dengan pesat dan akan berevolusi bermula sebagai klaster pangan kemudian menjadi obyek klaster pariwisata. Dengan semakin majunya penelitian dan teknologi selanjutnya berevolusi menjadi klaster industri kertas rumput laut dan industri bahan bakar nabati berupa bioetanol. Saat ini Korea Selatan telah memegang hak paten untuk pembuatan kertas dan bioetanol melalui perusahaan Samsung/Pegasus. Pihak Korea Selatan tengah mencari mitra strategis di Indonesia untuk pengembangan kertas dan bioetanol dari rumput laut. Hasil penelitian diketahui biaya produksi bioetanol dari rumput laut lebih murah dan jangka waktu panen lebih pendek dari pada jagung dan ubi kayu. Sulsel berpeluang menjadi klaster industri kertas dan bioetanol rumput laut terbesar di Indonesia. Peluang ini harus direbut sebelum diambil oleh provinsi lain misalnya Bali, NTB, Sulawesi Utara atau lainnya. Dalam kondisi krisis energi global dan bahan baku kertas dari pulp/kayu saat ini seyogyanya Sulsel sudah mulai proaktif mengantisipasi dengan memperkuat relung ekonomi melalui klaster industri rumput laut.
Dengan fakta-fakta manfaat klaster, informasi hasil kajian rumput laut yang ada serta semangat dan ketekunan petani Sulsel bukan mustahil menjadikan “Sulsel sebagai klaster utama rumput laut dunia”. Klaster industri rumput laut dapat menjadi salah satu mata rantai menjadikan Sulsel sebagai ikon “Center Point of Indonesia”. Dibutuhkan keuletan, ketekunan dan penanganan profesional dari para pemangku kepentingan untuk mewujudkannya. Sekali layar berkembang pantang surut ke pantai, ini menjadi satu mind set yang patut terekam untuk membangun industri kelautan dalam visi komunitas swasta Sulsel. (NI)
Makassar, 30 November 2008